Pir Piran Ala Baru, Meriahkan Lebaran Di Desa Dharma Tanjung Camplong Sampang
SAMPANG, Anekafakta.com - "Pir Piran" merupakan media Silaturahmi dengan mengendarai Delman (dokar) bagi warga masyarakat di dua Desa yakni Desa Dharma Tanjung Kecamatan Camplong Sampang dan Desa Bandaran Kecamatan Tlanakan Pamekasan
Tradisi tersebut biasanya dilakukan oleh warga masyarakat di Desa perbatasan Kabupaten Sampang dan Pamekasan tiga kali dalam kurun waktu setahun yaitu sehari pasca Idul Fitri, sehari pasca Hari Raya Ketupat (H+8 Idul Fitri) serta sehari setelah Idul Adha
Pantauan reporter Anekafakta selasa 1/4 (sehari pasca Idul Fitri 1446 H/ 2025 M), sejak pagi warga tiap gang di sepanjang jalan Raya Desa Dharma Tanjung hingga Desa Bandaran telah menyiapkan Sound system beserta perlengkapan pendukung di pinggir jalan serta membunyikannya dengan berbagai musik dan lagu yang sudah disiapkan
Puncak acara Pir Piran dimulai pada pukul 15.00 wib, bunyi bunyian musik mulai menggema di hampir setiap gang, tak sedikit yang ikut bernyanyi sambil berjoget hingga memancing perhatian pengguna jalan di jalan Nasional
Warga masyarakat mulai anak anak hingga lanjut usia lalu lalang dan duduk dipinggir jalan seolah menikmati serta menyaksikan tradisi "Pir Piran", sementara Petugas Kepolisian wilayah Hukum Sampang dan Pamekasan berjaga jaga untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan arus lalu lintas maupun potensi gangguan Kamtibmas
Menurut Samsuddin Tokoh Pemuda setempat dan mantan Anggota DPRD Sampang, puncak tradisi Pir Piran dimulai pukul 15.00 wib hingga 17.30 wib sebelum adzan magrib tiba
"Setelah magrib biasanya dilanjutkan jalan jalan ke Pamekasan, ada yang sekedar shoping, menikmati suasa baru maupun acara santai lainnya," ujar Samsudin
Ia mengungkapkan, sudah hampir 5 tahun terjadi pergeseran tata cara merayakan Pir Piran dan tidak seperti tahun sebelumnya
"Karena ada larangan menggunakan Delman saat Pir Piran guna menghindari kemacetan, diganti dengan bunyi bunyian Sound system namun tidak merubah esensi maupun makna dari tradisi tersebut," imbuhnya
H Joni Tokoh Pemuda dan Sekretaris Desa Dharma Tanjung membenarkan terjadinya perubahan tata cara dalam merayakan Pir Piran
Dijelaskan, Pir Piran berasal dari kata "Pir" yaitu sejenis Delman dengan roda enam dan ditarik oleh dua kuda, Kendaraan Pir ini sudah punah dan pada dekade berikutnya warga masyarakat merayakan dengan menggunakan Dokar serta sejenis Bentor
Karena dikhawatirkan berpotensi mengganggu arus lalu lintas maka pada Perayaan Pir Piran saat itu dilarang dan warga masyarakat pun menggunakan Kendaraan Truk memuat Sound system dan membunyikannya dengan iring iringan seperti pawai
"Kondisi ini juga berpotensi akan mengganggu arus lalu lintas saat Pir Piran hingga akhirnya disepakati menggunakan Sound system di pinggir jalan yang diinisiasi oleh warga masyarakat di masing masing gang," tuturnya
Dalam kesempatan tersebut H Joni sempat menepis isue selama Pir Piran menjadi ajang pamer kekayaan (menggunakan perhiasan
"Tidak begitu lah," tandanya
Masih menurut H Joni, antusiasme warga masyarakat dalam perayaan Pir Piran karena momen tersebut merupakan tradisi nenek moyang dan bentuk wujud syukur dalam menghormati hari hari besar keagamaan termasuk juga mengimplemen tasikan nilai nilai kekeluargaan, kekerabatan serta kebersamaan dalam kehidupan sosial masyarakat. (Imade)
Posting Komentar